HFIS
PT. SARANA MULTIGRIYA FINANSIAL (PERSERO)

Media Massa / 17 Juli 2020

SMF Berencana Terbitkan EBA Syariah – SP Tahun Ini

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF berencana untuk menerbitkan Efek Beragun Aset Syariah berbentuk Surat Partisipasi (EBAS-SP) tahun ini. Jika nantinya berhasil direalisasikan, maka surat berharga (efek) itu menjadi kali pertama perseroan terbitkan.

“Iya (beberapa waktu ke depan akan terbitkan EBAS-SP), masih dalam proses, mohon doanya semoga tahun ini bisa terbit EBAS-SP pertama. Aamiin,” kata Direktur SMF Heliantopo kepada Investor Daily, Selasa (14/7).

Pria yang kerap disapa Topo itu menyatakan, sejak berdiri pada tahun 2005, perseroan baru mulai menerbitkan EBA-SP mulai tahun 2009. Sejak saat itu hingga tahun 2019, SMF telah memfasilitasi sebanyak 13 transaksi sekuritisasi secara akumulatif mencapai Rp 12,15 triliun.

Menariknya, sambung dia, seluruh EBA-SP yang diterbitkan secara konsisten memiliki rating idAAA (triple A). Mulai dari saat penerbitan, saat ulasan tahunan, sampai surat berharga itu jatuh tempo masih tetap mencatatkan rating triple A. Hal itu salah satunya didasari aset yang khas dan spesifik dari perseroan yakni terkait pembiayaan kredit pemilikan rakyat (KPR).

“Jadi memang ini underlying aset sangat spesifik dan sangat khas. Karena semakin lama underlying aset KPR ini semakin lama maka akan semakin rendah risikonya. Karena nilai asetnya terus naik setiap tahun. Semisal pun ada gagal bayar KPR, itu semakin lama kerugian juga akan tertutupi karena nilainya semakin naik,” papar Topo.

Dia menilai, harga kepemilikan rumah setiap tahun semakin tinggi. Meski dihadapkan pada situasi sulit seperti pandemi Covid-19, harga kepemilikan rumah cenderung stagnan. Menurut Topo, hal tersebut dipengaruhi bahwa ketersediaan lahan rumah tidak pernah bertambah. Sedangkan kebutuhan akan tempat tinggal terus meningkat setiap tahun.

Sementara itu Topo menjelaskan, transaksi sekuritisasi dapat mentransformasi aset yang tidak likuid dalam hal tagihan KPR, menjadi surat berharga atau EBA-SP atau EBAS-SP yang dapat diperdagangkan di pasar modal. Dengan begitu berbagai manfaat dapat diraih, baik oleh penyalur KPR maupun investor. Dari sisi penyalur KPR, jelas dia, perbankan misalnya tidak lagi tergantung pada dana pihak ketiga (DPK), tersedia dana untuk pembiayaan perumahan baru. Kemudian, turut mengatasi permasalahan maturity matched dan mengurangi kebutuhan capital adequacy ratio (CAR).

Sedangkan dari sisi investor, EBA-SP atau EBAS-SP bisa menjadi diversifikasi portofolio investasi saat ini. Dari sisi jaminan pun memiliki dasar dan transparan yakni tagihan KPR. Selain itu, risiko terjadinya default lebih rendah karena terbaginya risiko ke banyak tagihan KPR. Hal itu didukung rating efek triple A yang dapat meningkatkan profil risiko secara keseluruhan.

Topo menyatakan, pihaknya selektif untuk memilih para penyalur KPR. Para penyalur setidaknya mesti memenuhi 32 kriteria bisa disekuritisasi oleh perseroan. “Jadi KPR-KPR yang dimiliki oleh bank itu sudah kita pilih, karena tidak semuanya bisa kita sekuritisasi, disaring. Setelah dipilih, kita bagi lagi menjadi dua kelas yakni kelas A dan kelas B,” imbuh dia.

Topo juga menjelaskan, kelas A memiliki porsi sebesar 90% dan ditawarkan kepada investor umum. Dalam aspek risiko, kelas A memiliki risiko rendah karena ditargetkan mengantongi rating idAAA dengan dengan arus kas yang bersifat tetap. Sedangkan kelas B mendapat jatah maksimal sebesar 10% dan ditawarkan secara terbatas (ditawarkan kembali ke originator). Kelas itu memiliki risiko tinggi karena tidak ikut serta pada pemeringkatan dan memiliki arus kas bersifat tidak tetap.

Underlying aset debitur KPR tidak dibedakan untuk kedua kelas itu, yang membedakan adalah pembayaran berdasarkan payment waterfall. Maksudnya, kelas B mendapat jatah pembayaran paling akhir, sehingga jika ada debitur KPR yang menunggak maka penerimaan kelas B akan berkurang. Sedangkan kelas A mendapatkan kupon fix (arus kas tetap).

“NPL KPR menurut BI (Bank Indonesia) sekitar 3-4%, itu secara gelondongan. Jika disaring dengan 32 kriteria tadi, sebetulnya bisa dikatakan sekitar 1%. Untuk kelas B disiapkan gagal bayar sampai 10% kan, kalaupun kelas B itu terpukul, maka hanya sebagian kecil saja yang terpukul secara keseluruhan. Itulah kenapa peringkatnya bisa bertahan di idAAA,” ungkap dia.

Topo menerangkan, sejatinya peringkat idAAA memberi penjelasan bahwa kemungkinan gagal bayar dan keterlambatan bayar relatif kecil. Lagipula, setiap sekuritisasi pasti terdapat dana yang dititipkan (reserved account) di bank kustodian untuk sebagai cadangan satu kali pembayaran bunga. Dengan begitu, jika terjadi likuiditas yang bermasalah maka hak investor untuk sementara bisa dibayarkan. “Investor sudah pasti memiliki risiko, tapi sudah ada bantalan-bantalan yang disiapkan. Jadi sejak 2009 sampai sekarang itu ratingnya masih triple A, mudah-mudahan itu kana terus berlanjut. Jangankan sampai gagal bayar EBA, untuk tidak turun kelas menjadi double A saja kita terus upayakan,” kata dia.

Sumber : Investor Daily

×