HFIS
PT. SARANA MULTIGRIYA FINANSIAL (PERSERO)

Media Massa / 19 Januari 2016

Kalangan Properti Berharap BI Rate Bisa Turun Lagi 25 Basis Poin

Ipotnews – Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) pekan lalu merupakan angin segar bagi perbankan dan sektor pembiayaan, khususnya pembiayaan perumahan, karena akan mendorong daya beli masyarakat. Namun, agar lebih berdampak, BI diharapkan melanjutkan penurunan sebesar 25 basis poin lagi. “BI Rate turun kita pasti akan sambut, terutama di bidang properti, karena dengan tingkat bunga yang menurun, industri perumahan maupun industri properti akan tumbuh. Karena sangat sensitif terhadap bunga. Kalau tingkat suku bunga turun otomatis suplai rumah akan bertambah, karena kan bahan-bahan bangunan juga akan menurun. Kemudian untuk sisi demand, untuk KPR nya pun semakin banyak masyarakat yang akan menjangkau KPR. Semakin banyak industri properti maupun industri perumahan akan lebih berkembang dibandingkan tahun lalu,” papar Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) / SMF Raharjo Adisusanto kepada Ipotnews di kantornya, Jakarta, Selasa (19/1). Raharjo mengatakan, maskipun penurunan BI Rate hanya 25 basis poin, menjadi 7,25%, namun diyakini hal itu akan sangat membantu mendorong kredit, apalagi jika penurunan BI Rate diikuti penurunan tingkat bunga pinjaman. “Kalau diasumsikan ya pasti ada kenaikan (Demand dan Supplay) lah. Tetapi sekarang kalau berbicara kenaikan, ini kan perlu waktu juga. BI rate diturunkan, perbankan menurunkan suku bunga juga perlu waktu sebulan dua bulan ke depan, karena mereka menyesuaikan sumber pendanaannya,” jelas Raharjo. Bagi SMF, lanjut Raharjo, penurunan suku bunga acuan akan berdampak pula pada tingkat suku bunga obligasi. Pasalnya, SMF merupakan lembaga pembiayaan perumahan sekunder yang menyalurkan pinjamannya kepada perbankan penyedia layanan KPR bagi masyarakat. Dengan penurunan suku bunga obligasi itu, menurutnya, SMF bisa menyediakan pembiayaan dengan suku bunga yang lebih murah lagi kepada perbankan. “Harapannya dana suku bunga obligasi ini segera turun, sehingga kami bisa meminjamkan kepada perbankan dengan bunga yang lebih menarik lagi,” tuturnya. Raharjo berharap, dengan perbaikan kondisi perekonomian nasional, serta indikasi lainnya seperti tingkat inflasi yang juga mengalami penurunan sangat signifikan, Bank Indonesia akan mempertimbangkan untuk kembali menurunkan suku bunga acuannya. Jika hal itu benar-benar dilakukan, diyakini sektor properti akan kembali terdongkrak kinerjanya, disamping juga manfaat langsung bagi masyarakat karena daya beli semakin meningkat. “Harapannya sih bisa turun lagi (BI Rate). Sepertinya BI akan menurunkan bertahap sambil melihat situasi. Sebenarnya harapan masyarakat termasuk para stakeholder ini masih bisa turun lagi. Ini kan baru 25 basis poin, harapannya lagi bisa (turun) 25 basis poin. Ya kalau situasinya semakin baik bisa turun lagi, sehingga kalau bisa paling tidak seperti tahun 2013, 7 persen,” tukasnya.(Sigit/ha)
https://www.ipotnews.com/index.php?level2=&level3=&level4=&news_id=59244&group_news=IPOTNEWS&taging_subtype=PROPERTY&popular=&search=y&q=smf

×