HFIS
PT. SARANA MULTIGRIYA FINANSIAL (PERSERO)

Info Pasar / 11 Maret 2016

Ekonomi – Makroekonomi: Produk Domestik Bruto

Ekonomi Indonesia di triwulan IV-2015 terhadap triwulan IV-2014 (yoy) tumbuh sebesar 5,04 persen. Angka tersebut berada di atas konsensus yang hanya memperkirakan pertumbuhan 4,80%. PDB di triwulan IV-2015 merupakan PDB tertinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya tahun 2015, yaitu masing-masing 4,73 persen (triwulan I), 4,66 persen (triwulan II), dan 4,74 persen (triwulan III). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi sebesar 12,52 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 8,32 persen.

Secara qoq, ekonomi Indonesia triwulan IV-2015 dibanding triwulan sebelumnya mengalami kenaikan sebesar 1,83 persen.  Dari sisi produksi disebabkan oleh efek musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sementara dari sisi pengeluaran disebabkan oleh penurunan ekspor neto.

<em>Prospek</em>: Ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh lebih cepat. PDB tahun 2016 diprediksi akan tumbuh 5,4 persen, ditopang oleh konsumsi, investasi serta kontribusi net ekspor yang lebih besar. Inflasi yang makin terjaga serta tingkat bunga yang berangsur menurun akan mendorong naiknya konsumsi rumah tangga dan investasi. Hambatan dalam belanja APBN seperti tahun 2015 sudah mampu teratasi, sehingga belanja pemerintah diperkirakan akan memberikan kontribusi yang lebih maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi ditahun 2016.

<img class=”aligncenter size-medium wp-image-1784″ src=”http://www.smf-indonesia.co.id/wp-content/uploads/2017/02/GDP-Q41-300×202.png” alt=”” width=”300″ height=”202″ />
<p style=”text-align: center;”><em>PDB Indonesia di triwulan IV 2015 sebesar 5,04%</em></p>
<strong>Inflasi</strong>
Pada bulan Februari 2016 terjadi deflasi sebesar 0,09 persen MoM, setelah di bulan sebelumnya terjadi inflasi sebesar sebesar 0,51 persen (mom). Secara tahunan, laju inflasi Februari mencapai 4,42 persen (yoy). Deflasi Februari 2016 lebih rendah dibandingkan dengan deflasi Februari 2015 yang mencapai 0,36 persen.
Deflasi terjadi karena penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 0,58%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,45%, dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan 0,15%.
Prospek: Tekanan inflasi pada bulan Maret 2016 diperkirakan masih akan rendah, bahkan berpotensi deflasi lebih dalam dari bulan Februari. Perkiraan ini didasarkan pada faktor musim (panen raya), dimana harga kebutuhan pokok biasanya akan menurun signifikan. Selain itu, penurunan tekanan inflasi pada bulan Maret ini juga datang dari penurunan harga BBM (pertamax dan pertalite) serta penurunan tarif dasar listrik. Jika secara bulanan pada Maret 2016 terjadi deflasi, maka inflasi tahunan akan kembali mengalami penurunan yang signifikan, karena pada Maret 2015 secara bulanan terjadi inflasi. Perkembangan ini akan menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi kebijakan otoritas moneter untuk menurunkan suku bunga acuan lebih jauh.

<img class=”aligncenter size-medium wp-image-1785″ src=”http://www.smf-indonesia.co.id/wp-content/uploads/2017/02/Inflasi-feb-2016-300×197.png” alt=”” width=”300″ height=”197″ />

<strong>BI Rate</strong>
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Februari 2016 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi sebesar 7,00 persen dari level sebelumnya sebesar 7,25 persen. Penurunan BI Rate tersebut disertai dengan penurunan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen dan Lending Facility menjadi 7,50 persen. Penurunan tersebut berlanjut setelah pada RDG Januari 2016, suku bunga acuan dipangkas menjadi 7,25 persen setelah bertahan selama 11 bulan pada level 7,50 persen. Selain itu, BI juga menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer dalam rupiah sebesar 1 persen menjadi 6,5 persen berlaku efektif pada 16 Maret 2016.
Keputusan tersebut sejalan dengan ruang pelonggaran kebijakan moneter yang semakin terbuka dengan semakin terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya penurunan tekanan inflasi di 2016 serta meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Prospek : Prospek laju inflasi tahunan yang cenderung menurun dan perkembangan nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan menguat, memberikan ruang yang lebih longgar bagi BI untuk melonggarkan kabijakan moneternya. Selain itu perekonomian kita juga masih memerlukan stimulus (termasuk stimulus moneter) agar bisa tumbuh lebih pesat dari yang ada saat ini. Ditambah dengan neraca transaksi berjalan yang masih terjaga, maka dalam jangka pendek ini Bank Indonesia diprediksikan akan kembali memangkas suku bunga BI rate menjadi 6.75 persen.

<img class=”aligncenter size-medium wp-image-1786″ src=”http://www.smf-indonesia.co.id/wp-content/uploads/2017/02/BI-Rate-300×201.png” alt=”” width=”300″ height=”201″ />
<p style=”text-align: center;”><i>BI Rate turun di level 7,25%</i></p>
<p style=”text-align: left;”><strong>Nilai Tukar USD-IDR</strong>
Nilai tukar Rupiah menguat Februari lalu. Per 29 Februari 2016, Rupiah terapresiasi sebesar 2,34 persen mom, atau 3,74 persen sejak awal tahun 2016. Kinerja Rupiah semakin membaik dibandingkan mata uang negara lain di Asia.
Penguatan Rupiah pada bulan Februari 2016 dipicu oleh faktor domestik diantaranya adalah laju inflasi yang lebih stabil dan pemangkasan suku bunga BI Rate. Turunnya suku bunga menumbuhkan ekspektasi kinerja ekonomi yang lebih baik kedepan.
Prospek: Tren inflasi yang menurun yang diikuti oleh penurunan suku bunga memunculkan ekspektasi perbaikan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan. Peningkatan prospek pertumbuhan ekonomi tersebut akan diikuti oleh peningkatan kinerja emiten, sehingga mengundang masuknya investor (lokal dan asing) ke pasar modal kita. Arus masuk investor asing kembali ke bursa Indonesia akan memberikan dampak positif bagi penguatan nilai tukar rupiah.</p>

×