HFIS
PT. SARANA MULTIGRIYA FINANSIAL (PERSERO)

Info Pasar / 13 Juli 2015

Info Pasar

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada Bulan Juni 2015 sebesar 0,54% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 120,14. Angka ini mengalami peningkatan bila dibandingkan inflasi di bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,50 persen, dikarenakan pada Juni sudah masuk Ramadan. Dibandingkan lima tahun terakhir pada Juni di tahun ini memang tingkat inflasi tercatat lebih rendah. Pada Juni 2014 tercatat 0,43 persen, 2013 sebesar 1,02 persen, 2012 sebesar 0,62 persen, 2011 sebesar 0,55 persen, dan 2010 sebesar 0,97 persen. Untuk inflasi tahun kalender tercatat sebesar 0,96 persen. Sedangkan inflasi secara year on year (yoy) tercatat sebesar 7,26 persen. Untuk komoditas inti, inflasi tercatat sebesar 0,26 persen, dan komponen inti yoy tercatat sebesar 5,04 persen. Penyebab inflasi Juni yakni bahan makanan karena permintaan yang meningkat dari masyarakat memasuki puasa dan Lebaran. Namun demikian, harga-harga masih cukup terkendali sehingga sumbanganya hanya 1,60 persen dengan andil harganya 0,33 persen. Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), 76 kota mengalami inflasi, sisanya enam kota tercatat deflasi. Inflasi tertinggi berada di Sorong sebesar 1,9 persen dan terendah di Palu 0,03 persen.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juni 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk menjaga agar inflasi berada pada sasaran inflasi 4±1% di 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap PDB dalam jangka menengah. Surplus neraca perdagangan Mei 2015 tercatat sebesar 0,95 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus pada bulan April sebesar 0,48 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat dari bulan sebelumnya, dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas yang lebih tajam dibandingkan dengan penurunan ekspor nonmigas. Sementara itu, kinerja neraca perdagangan migas juga membaik, dengan defisit yang menurun dari bulan sebelumnya. Penurunan defisit tersebut dipengaruhi oleh penurunan impor migas yang lebih dalam dari penurunan ekspor migas.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup pada level  Rp13,323 Selasa, 30 Juni 2015. Faktor teknikal mendorong mata uang rupiah bergerak menguat, tetapi penguatan rupiah juga masih rentan untuk kembali terkoreksi, menyusul maraknya sentimen negatif di pasar global. Belum selesainya penyelesaian utang Yunani kepada kreditur internasional hingga berujung pada penutupan sejumlah bank untuk mencegah penarikan tabungan secara masal membuat mata uang euro tertekan cukup dalam. Situasi di Yunani itu dapat berdampak negatif ke pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut akan mendorong permintaan dolar AS sebagai aset ‘safe haven’ akan meningkat yang pada akhirnya menekan rupiah.

Pada periode Juni 2015 yield SUN kompak mengalami kenaikan di setiap tenornya,dengan kenaikan tertinggi dicatatkan SUN bertenor panjang  berkisar antara 0,39%-0,45%, dibandingkan bulan sebelumnya. Per tanggal 30 Juni  2015, indeks return pasar obligasi mencatatkan angka 180,76 naik tipis dibandingkan awal bulan yang tercatat sebesar 180,61. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dibawah ekspektasi berdampak negatif pada persepsi investor dalam bertransaksi obligasi di pasar sekunder. Sepanjang Juni 2015, investor memilih untuk mengakumulasi seri obligasi tenor pendek dan melepas obligasi tenor menengah dan panjang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dibawah ekspektasi berdampak negatif pada persepsi investor dalam bertransaksi obligasi di pasar sekunder.

rapat Komite Operasi Pasar Terbuka (FOMC) The Fed pada tanggal 16-17 Juni. Sementara dari dalam negeri, sehari setelah pelaksanaan rapat FOMC, Bank Indonesia kembali melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang juga memutuskan untuk mempertahankan BI rate di level 7,5%.  Sejalan dengan pergerakan SUN dan obligasi perserian, yield rata-rata EBA perseroan dalam sebulan mencatatkan kenaikan berkisar antara 0,02%-0,33%. Secara rata-rata, kenaikan yield tertinggi dicatatkan EBA seri DBTN05A2 sebanyak 0,33% dengan kupon sebesar 10,25% dan kenaikan terendah dicatatkan EBA seri DBTN04A1 sebanyak 0,02% dengan kupon sebesar 8,90%.

Per 30 Juni 2015, pemegang surat utang (obligasi) Perseroan mayoritas terdiri dari Jamsostek dengan persentase 24,06% atau sebesar Rp1,14 triliun. Berikutnya berturut – turut adalah Tax Treaty dan Dana Pensiun yang memegang Obligasi Perseroan dengan persentase lebih dari 10% yakni 19,63% dan 16,53%. Sepanjang bulan Juni 2015 tercatat terjadi 3 kali transaksi dengan akumulasi volume sebesar Rp 2,2 miliar.

Pada Juni 2015, dari 10 besar Bank Penyalur KPR di Indonesia rata-rata SBDK untuk KPR sebesar 11,34% dimana terdapat penurunan  dari rata – rata bulan lalu yaitu sebesar 11,49%. Terdapat 2 bank yang merubah suku bunga KPR nya, yaitu Bank BCA yang menurunkan suku bunga KPR menjadi sebesar 10,25% dari semula 10,50%, dan Bank BII yang juga menurunkan suku bunga nya menjadi 10,75% dari semula 11,75%. Suku bunga dasar KPR tertinggi yang ditawarkan saat ini adalah sebesar 12,31%. Sedangkan suku bunga dasar KPR terendah yang ditawarkan saat ini adalah sebesar 10,25%. Dengan adanya revisi ketentuan GWM-LDR dan penurunan LTV dalam jangka menengah panjang dipercaya akan mendorong penurunan suku bunga KPR dan meningkatkan keterjangkauan kepemilikan rumah.

Data statistik perbankan Bank Indonesia melaporkan bahwa outstanding KPR dan KPA per April 2015 mengalami kenaikan mengalami kenaikan tipis dari bulan sebelumnya sebesar Rp2,150 triliun. Data mencatatkan outstanding KPR per bulan April 2015 sebesar Rp308.127 triliun Berikut ini tabel outstanding KPR dan KPA di Indonesia. Bank Indonesia mencatat persentase NPL KPR pada April 2015 mengalami kenaikan menjadi 2,47% dibanding Maret 2015 yakni sebesar 2,16%.

Update berita pada Bulan Juni diantaranya adalah terbitnya Permen Nomor 22/PRT/M/2015 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) tentang Fasilitas Bantuan Tabungan Perumahan PNs (BTP-PNS) tanggal 28 Juni 2015, dan Kepmen Nomor 289/KPTS/M/2015 yang merupakan fasilitas untuk PNS golongan I-IV yang akan membeli rumah secara kredit melalui bank pelaksana yang bekerjasama dengan Bapertarum-PNS. Kementerian PUPR menganggarkan dana sebesar Rp400 miliar untuk bantuan tanpa harus dikembalikan. Bagi PNS yang sudah memiliki masa kerja minimal lima tahun, belum memiliki rumah dan belum memanfaatkan bantuan, serta pembelian rumahnya dengan harga acuan pemerintah, dapat memanfaatkan bantuan tersebut.

Sumber data diperoleh dari Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesian Bond Pricing Agency (IBPA), dan website masing-masing Bank

×