HFIS
PT. SARANA MULTIGRIYA FINANSIAL (PERSERO)

Sambutan Direktur Utama

KEGIATAN USAHA PERUSAHAAN

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) mengemban misi dari pemerintah untuk mengalirkan dana dari pasar modal ke penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Tujuannya adalah untuk menambah percepatan volume KPR di Indonesia dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kesinambungan pembiayaan perumahan sehingga terjangkau oleh masyarakat, terutama masyarakat menengah bawah. Kegiatan pengaliran dana dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu memfasilitasi program sekuritisasi bagi penyalur KPR, serta menyediakan fasilitas pembiayaan kepada penyalur KPR dengan sumber dana dari penerbitan surat utang. Kedua program tersebut merupakan kegiatan utama Perseroan.

TANTANGAN DAN KENDALA-KENDALA DI 2016

Sepanjang tahun 2016, kondisi perekonomian global masih diwarnai sejumlah tantangan. Kemenangan kubu Brexit melalui referendum di Inggris, yang menghasilkan kesepakatan bahwa Inggris keluar dari Uni Eropa, mengejutkan banyak pihak. Volatilitas di pasar keuangan langsung meningkat sebagai respon terhadap situasi geopolitik di kawasan Eropa tersebut.

Volatilitas di pasar keuangan global juga semakin bergejolak akibat ketidakpastian rencana kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, Fed Fund Rate. Kepastian itu baru datang pada akhir tahun, yaitu Desember 2016 bahwa Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk menaikkan suku bunga 25 basis poin.

Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, risiko yang terjadi di pasar global tersebut ikut memberikan pengaruh terhadap kinerja perekonomian dalam negeri, terutama terhadap kinerja perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor kumulatif Indonesia hingga November 2016 hanya sebesar USD130,65 miliar, turun 5,63% dibandingkan periode yang sama tahun 2015.

Kendati demikian, perekonomian Indonesia secara umum masih bergerak positif dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data BPS, pertumbuhan ekonomi tahun 2016 mencapai 5,02% (yoy), lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 4,79%.

Kinerja ekonomi tersebut masih ditopang oleh permintaan domestik yang tetap terjaga. Sektor konsumsi dan investasi memberikan sumbangan terbesar. Menurut Bank Indonesia, kontribusi investasi antara lain berasal dari kegiatan konstruksi bangunan.

Perekonomian dalam negeri pada tahun 2016 juga sempat diwarnai dengan likuditas keuangan yang ketat, terutama di perbankan, walaupun tidak berlangsung sepanjangtahun. Hal itu, antara lain disebabkan oleh antusiasme masyarakat dalam mengikuti program tax amnesty, sehingga banyak yang menarik dananya di perbankan luar negeri.

Dalam situasi yang rentan tersebut, potensi risiko dari tagihan semakin besar lantaran kinerja dunia usaha cenderung mengalami stagnasi, akibat daya beli masyarakat ikut melemah.Hal ini dapat berdampak terhadap bisnis Perseroan, mengingat salah satu unit bisnisnya bergerak di bidang perbankan.

KEBIJAKAN DAN INISIATIF STRATEGIS

Kebijakan Strategis

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) didirikan pada tahun 2005 dengan tujuan membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan di Indonesia. SMF mengemban misi dari pemerintah untuk mengalirkan dana jangka panjang dari pasar modal ke sektor perumahan melalui penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) agar menambah percepatan volume KPR di Indonesia dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kesinambungan pembiayaan perumahan sehingga terjangkau oleh masyarakat, terutama masyarakat menengah bawah.

Perseroan menyalurkan dana melalui 2 (dua) kegiatan utama, yaitu memfasilitasi program sekuritisasi bagi lembaga penyalur KPR serta menyediakan fasilitas pembiayaan kepada penyalur KPR dengan sumber dana dari penerbitan surat utang.

Setelah beroperasi lebih dari satu dekade, Perseroan berhasil menanggulangi berbagai tantangan. Aset Perseroan tumbuh secara eksponensial serta reputasi sebagai perusahaan pembiayaan sekunder perumahan sesuai dengan misi Perseroan berhasil dibangun dengan baik.

Berdasarkan Rencana Jangka Panjang Perseroan (RJPP), strategi Perseroan tahun memasuki tahap “Memperkuat Pasar.” Fokusnya adalah melanjutkan pelaksanaan program kerja serta melakukan penyesuaian program kerja agar tercapai peningkatan kinerja. Program kerja Perseroan disinergikan dengan rencana kerja Kementerian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta persiapan infrastruktur pendukung terbentuknya Sistem informasi Pembiayaan Perumahan/HFIS (Housing Finance Information System).

Perseroan menyediakan dana jangka panjang melalui kegiatan penyaluran pinjaman yang dananya berasal dari penerbitan surat utang pasar modal untuk kemudian disalurkan ke sektor pembiayaan perumahan melalui penyalur KPR. Untuk mengantisipasi lamanya proses penerbitan surat utang, maka Perseroan menggunakan dana yang berasal dari ekuitas terlebih dahulu sebagai bridging untuk kemudian digantikan dengan dana dari hasil penerbitan surat utang sehingga terjadi kelipatan dalam penyalurannya.

Selain itu, untuk memperkuat pasar pembiayaan sekunder, Perseroan melakukan kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Perseroan melihat potensi besar yang dimiliki oleh bank daerah untuk memberikan pembiayaan perumahan, khususnya kepada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Perseroan juga berusaha meningkatkan perannya agar menjadi lebih sentral dengan menerbitkan Efek Beragun Aset-Surat Partisipasi (EBA-SP) serta menjadi Guarantor Penjamin efek beragun aset yang diterbitkan. Penerbitan EBA-SP sesuai dengan Peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 23/POJK.04/2014 tentang Pedoman Penerbitan dan Pelaporan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) dalam rangka Pembiayaan Sekunder Perumahan. EBA-SP sesuai dengan yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden No. 1 Tahun 2008 juncto Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2005 sebagai dasar pendirian Perseroan.

Inisiatif Strategis 2016

Sepanjang tahun 2016 Perseroan telah menjalankan sejumlah inisiatif strategis yang tujuan utamanya adalah mendukung kinerja usaha Perseroan. Inisiatif yang diimplementasikan, antara lain:

  1. Memperluas basis pembiayaan Perseroan telah mengembangkan segmen pembiayaan kepada Bank Pembangunan Daerah untuk memperluas pembiayaan primer Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Inisiatif ini berpotensi mampu meningkatkan kinerja usaha Perseroan, baik di bidang pembiayaan maupun
  2. Pengembangan KPR-SMF Perseroan pada tahun 2016 telah merampungkan rencana pembentukan KPR-SMF, yaitu penghimpunan sejumlah KPR yang berkualitas dari beberapa Bank Pembangunan Daerah (BPD). Proyek ini mulai diimplementasikan pada tahun 2017.
  3. Advokasi Peraturan Presiden No. 101 Tahun 2016 tentang Perubahan ke-2 Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2005 Sesuai Peraturan Presiden No. 1 Tahun 2008, peran Perseroan dalam kegiatan penyaluran pinjaman dibatasi sampai dengan tahun 2018. Hal tersebut tidak sejalan dengan perkembangan beberapa tahun terakhir pasar pembiayaan sekunder perumahan yang terjadi di banyak negara. Pertumbuhan pasar pembiayaan sekunder lebih didorong dengan program-program refinancing sebagai model penyaluran pinjaman. Oleh karena itu Perseroan melakukan advokasi untuk merubah batasan tersebut, yang pada akhirnya berhasil dengan terbitnya Peraturan Presiden No. 101 Tahun 2016.

AKSI KORPORASI

Sepanjang 2016, Perseroan telah menerbitkan surat utang sebesar Rp2,75 triliun sebagai strategi pendanaan. Modal yang masuk tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan pasar primer perumahan melalui pembiayaan kepada lembaga penyalur KPR. Kegiatan usaha ini akan mendorong makin banyaknya penyalur KPR yang memiliki portofolio KPR yang kelak dapat disekuritisasi. Surat utang yang diterbitkan Perseroan pada tahun 2016 memiliki jangka waktu 370 hari hingga 5 tahun, disesuaikan dengan permintaan pasar pembiayaan KPR. Surat utang tersebut diterbitkan melalui penawaran umum obligasi berkelanjutan III tahap IV, V dan VI.

PENCAPAIAN TARGET

Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2016 menargetkan total aset Perseroan sebesar Rp12,03 triliun. Hingga berakhirnya tahun buku 2016, realisasi yang telah dicapai adalah sebesar Rp13,12 triliun atau 109,06% dari target. Sedangkan target yang disusun oleh Perseroan untuk tahun 2017 adalah Rp14,49 triliun.

Pencapaian realisasi yang rata-rata berada di atas target, karena manajemen telah menerapkan strategi yang tepat serta tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolan perusahaan. Selain itu, keberhasilan Perseroan juga didukung oleh kerja sama tim yang sangat baik dari seluruh organisasi di lingkungan Perseroan serta tetap fokus pada pencapaian target.

KINERJA USAHA 2016

Kinerja Keuangan

Pada tahun 2016, laba bersih Perseroan meningkat 28,05%, dari Rp247,76 miliar menjadi Rp317,28 miliar. Peningkatan ini disebabkan karena adanya pertumbuhan pendapatan sebesar 18,63%, dari Rp825,83 miliar menjadi Rp979,68 miliar.

Marjin keuntungan yang berhasil diperoleh mencapai 41,29%, lebih baik dibandingkan dengan tahun 2015 yang sebesar 38,03%. Angka tersebut merupakan perhitungan dari laba sebelum pajak dibagi dengan pendapatan operasional. Dengan demikian, indikator tersebut menunjukkan kemampuan Perseroan dalam memperoleh keuntungan mengalami peningkatan.

Pada tahun 2016, Perseroan membukukan rasio dana kumulatif yang disalurkan ke pasar primer perumahan melalui pemberian pinjaman dan sekuritisasi terhadap jumlah modal disetor (primary market financing to capital ratio) sebesar 6,85x, lebih besar dibandingkan tahun 2015 yang 6,75x. Hal ini menunjukkan bahwa Perseroan masih memiliki kemampuan lebih baik dalam menyalurkan pembiayaan ke pasar primer perumahan, baik melalui pinjaman maupun sekuritisasi.

Kinerja Perseroan tahun 2016 telah mendorong peningkatan aset menjadi Rp13,12 triliun. Jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang sebesar Rp10,06 triliun, mengalami kenaikan 30,43%. Peningkatan tersebut, antara lain dikontribusikan oleh Kas dan setara kas Perseroan pada tahun 2016 mencapai Rp2,97 triliun, naik 124,41% dibandingkan tahun 2015 yang sebesar Rp1,32 triliun.

Kinerja Operasional

Pada tahun 2016, Perseroan juga telah melakukan ekspansi kegiatannya melalui perluasan kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung peningkatan akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah tinggal. Kegiatan ini sejalan dengan misi Perseroan, yaitu membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan, yang dapat meningkatkan tersedianya sumber dana jangka menengah dan panjang untuk sektor perumahan, yang memungkinkan kepemilikan rumah menjadi terjangkau bagi setiap keluarga Indonesia. Untuk mendukung keberhasilan kegiatan usaha, Perseroan juga memberikan pendampingan kepada klien, terutama dalam rangka konsultasi. Hal ini sangat diperlukan mengingat produk usaha Perseroan belum banyak dipahami dengan baik oleh para pemangku kepentingan eksternal, sehingga diperlukan penjelasan melalui pendampingan. Kinerja operasional Perseroan pada tahun 2016 makin efisien. Hal itu ditunjukan dengan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang sebesar 58,71%. Sementara pada tahun 2015, BOPO Perseroan tercatat 61,97%. Perseroan akan terus meningkatkan kinerja operasional yang terus membaik setiap tahun ini.

Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pada tahun 2016, Perseroan telah merampungkan “Human Capital Roadmap” yang mulai diimplementasikan pada tahun 2017. Peta jalan tersebut disiapkan untuk pengembangan SDM dalam rentang waktu tiga tahun ke depan, yang di dalamnya mencakup kompetensi learning path, career path dan salary grading. Untuk mengembangkan talenta SDM di lingkungan

Perseroan, manajemen juga memberikan kesempatan pelatihan baik yang dilakukan secara in-house maupun di luar kantor. Kebijakan ini diterapkan, karena Perseroan menganggap SDM merupakan aset penting yang mampu menjamin kinerja usaha secara berkesinambungan.

DIVIDEN

Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan, jumlah dividen yang dibagikan berasal dari laba bersih yang besarnya ditetapkan dalam keputusan RUPS Tahunan menurut ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku. Hingga saat ini belum ada pembagian dividen oleh Perseroan.

ANALISIS PROSPEK USAHA

Dalam menyusun prospek usaha Perseroan untuk tahun buku 2017, manajemen telah mempertimbangkan faktor eksternal dan internal. Pada faktor eksternal, misalnya terkait dengan kondisi perekonomian global yang berpotensi mempengaruhi kondisi pasar keuangan domestik. Secara umum, Bank Indonesia memperkirakan pada tahun 2017 situasi perekonomian akan lebih baik. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun 2016, walaupun masih diwarnai perlambatan di negaranegara maju. Namun pertumbuhan ekonomi negaranegara berkembang akan lebih merata, karena didorong oleh perbaikan harga komoditas. Kendati demikian, Bank Indonesia dalam laporan “Perkembangan ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional” Triwulan III-2016 mengingatkan adanya potensi risiko yang dapat menahan perbaikan perekonomian global.

Potensi masalah tersebut, antara lain:

  1. Risiko politik dengan berlanjutnya tekanan disintegrasi Uni Eropa dan implementasi janji kampanye Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang dapat menekan kinerja ekonomi global.
  2. Proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang tidak terjadi secara lancar.
  3. Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, Fed Fund Rate (FFR).
  4. Rebalancing perekonomian Cina.

Dalam situasi seperti itu, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap stabil dengan ekspektasi pertumbuhan sebesar 5,1%. Bahkan Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih tinggi, yaitu 5,3%. Proyeksi yang positif ini memberikan sinyal bahwa perekonomian Indonesia akan tetap kokoh dalam menghadapi potensi risiko global. Perekonomian yang stabil akan sangat berpengaruh terhadap kinerja usaha Perseroan, mengingat bisnis Perseroan sangat sensitif terhadap kondisi makro, terutama terkait dengan pendanaan.

Dalam situasi perekonomian yang stabil, biaya yang harus dikeluarkan oleh Perseroan untuk mendapatkan dana (cost of fund) akan lebih murah dibandingkan ketika perekonomian penuh risiko. Dari sisi industri, sektor perumahan diperkirakan akan lebih bergairah pada tahun 2017. Hal itu sejalan dengan penyempurnaan kebijakan loan to value (LTV) seperti tertuang dalam Peraturan BI No. 18/16/PBI/2016 yang dikeluarkan pada Agustus 2016. Kebijakan tersebut menyatakan bahwa uang muka untuk KPR di bank konvensional hanya 15%. Sementara di bank syariah sekitar 10%.

Kelonggaran pinjaman di sektor properti ini akan mempengaruhi pertumbuhan penyaluran KPR. Dengan demikian, akan terjadi perluasan kepemilikan rumah atau pasar primer yang berpotensi memberikan efek positif bagi bisnis Perseroan yang terutama bergerak di bidang pembiayaan kepada bank penyalur KPR serta sekuritisasi aset KPR. Dengan mempertimbangkan situasi ini, Perseroan telah menetapkan target kinerja yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2016. Selain kondisi eksternal yang mendukung, faktor internal berupa pengalaman dan perkembangan bisnis Perseroan merupakan indikasi yang akan mendukung pencapaian tahun 2017.

TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

Perseroan senantiasa menjunjung tinggi prinsipprinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran yang merupakan aspek utama dari praktik tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Sebagai upayanya untuk menjadi perusahaan yang sehat secara finansial  dan  operasional,  maka  Perseroan berkomitmen kuat untuk terus melakukan kegiatan bisnisnya dengan berpedoman pada prinsip-prinsip GCG tersebut.

Komitmen Perseroan untuk menjalankan GCG dilanjutkan dengan membentuk Komite  Audit,  Komite  Manajemen  Risiko dan Satuan Pengawasan Intern Perusahaan termasuk  Pedoman  Etika  Bisnis  dan  Etika Kerja Perusahaan. Perseroan selalu berusaha memenuhi segala ketentuan dan peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian  Keuangan  Republik  Indonesia, dan  Bursa  Efek  Indonesia  dalam  melakukan kegiatan operasionalnya, serta peraturan lainnya termasuk dalam penyusunan laporan tahunan, laporan  keuangan,  dan  laporan-laporan  lainnya yang terkait dengan kewajiban Perseroan. Sementara untuk mengatur mekanisme pengambilan keputusan yang dilaksanakan oleh Direksi, Perseroan menyusun Pakta Direksi yang antara lain mengatur pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab pada saat ketidakhadiran salah  satu  anggota  Direksi  dan  mekanisme dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan. Perseroan juga telah merevisi Pedoman  Pengadaan  Barang  dan  Jasa,  dengan mengadop  Surat  Menteri  Negara  BUMN  RI No.  PER-05/MBU/2008 tanggal  3  September 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

SMF  sebagai  salah  satu  BUMN  di  bawah Kementerian Keuangan melaksanakan Program Kemitraan  dan  Bina  Lingkungan  (PKBL) sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Perseroan merancang program PKBL  dengan  prinsip  Tepat  Guna  dan  Tepat Sasaran.  Agar  penyaluran  dana  PKBL  dapat dirasakan  manfaatnya  oleh  masyarakat  yang membutuhkan. Untuk mencapai hal tersebut Perseroan  telah  membentuk  Tim  PKBL  yang bertugas untuk melakukan survei lapangan, pembinaan dan memonitor penggunaan dana yang telah disalurkan.

Kegiatan  utama  PKBL  SMF  antara  lain  adalah memberikan bantuan modal kerja untuk pembangunan/perbaikan rumah, sarana/prasarana  dan  utilitas  umum/infrastruktur pemukiman serta mendorong upaya peningkatan kualitas kehidupan sosial masyarakat dan perbaikan lingkungan melalui kegiatan perbaikan/penyediaan sarana dan prasarana umum, peningkatan kesehatan, pendidikan dan pelatihan, mendukung kegiatan keagamaan dan perbaikan sarana ibadah, pelestarian seni budaya dan alam, serta bantuan bencana alam.

×